Urip Achmad Rijanto (lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 6 Mei 1957 – meninggal di Jakarta, 4 Agustus 2009 pada umur 52 tahun) atau lebih populer sebagai Mbah Surip, adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia populer karena gaya dan tertawanya yang unik, dan karena lagu Tak Gendong dari albumnya pada tahun 2003 yang juga berjudul Tak Gendong.
Karier
Mbah Surip
pernah mendapatkan penghargaan rekor MURI (Museum Rekor
Indonesia) untuk kategori menyanyi terlama. Ia pernah ikut membintangi beberapa
film dan beberapa kali tampil di televisi.Sebelum menjadi seniman, Mbah
Surip mengaku pernah menjalani berbagai macam profesi.
Mbah Surip
dikenal dengan pengakuannya di media massa yang sering terdengar bercanda.
Dia mengaku pernah bekerja di bidang pengeboran
minyak serta tambang berlian. Dia juga mengklaim memiliki gelar
Doktorandus, Insinyur, dan MBA,
serta pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California. Menurut Mbah Surip, dia
menciptakan lagu Tak Gendong saat berada di Amerika Serikat, bertemakan kerjasama
saling bahu membahu dan belajar salah.
Kehidupan pribadi
Masa kecil dan pendidikan
Urip adalah
anak keempat dari tujuh bersaudara dari Sukotjo (alm.) dan Rasminah (alm.) yang
beserta keluarga besarnya tinggal di Jalan Magersari Gang Buntu, kelurahan Magersari,
Mojokerto, Jawa Timur.
Kehidupan masa kecilnya tergolong sulit karena dia harus bekerja membantu orang
tuanya yang berjualan kikil
sejak kecil. Dia sempat bekerja sebagai pedagang
asongan, seperti menjual es lilin dan kacang
goreng keliling kampungnya. Walaupun demikian, dia menyelesaikan
sekolahnya di SD Negeri Purwotengah II (1970), Sekolah Teknik Pasna Wiyata (1974),
kemudian STM
Brawijaya (1977). Dia bahkan menyelesaikan kuliah di Fakultas Teknik Mesin Universitas Sunan Giri Cabang Mojokerto (sekarang lokasi
SMK Raden Patah) (1979).
Keluarga dan pekerjaan awal
Setelah
lulus kuliah, Urip menikah dengan Minuk Sulistyowati dan dikaruniai empat anak,
antara lain Tita, Farid (yang kemudian menjadi manajer Urip di Jakarta), Krisna, dan Ivo Winda. Meski
sudah memiliki empat anak, saat itu Urip masih belum memiliki pekerjaan tetap.
Urip sempat bekerja sebagai tukang
sobek karcis di bioskop Indra di daerah
alun-alun kota Mojokerto dan juga di bioskop Indra di daerah lainnya yang
sekarang sudah tutup. Pada awal tahun 80-an, Urip memutuskan untuk merantau ke
Jakarta. Diduga karena Urip pergi merantau terlalu lama, istrinya yang berada
di Mojokerto akhirnya memutuskan untuk bercerai dengannya dan menikah dengan
lelaki lain. Setelah perceraian tersebut, Urip memutuskan untuk tetap menduda,
tidak menikah lagi hingga ia menghembuskan napasnya yang terakhir secara
mendadak.
Setelah populer
Oleh
kerabatnya, Urip dikenal sebagai orang yang bersahaja, baik sebelum maupun
sesudah populer. Dia sering menyempatkan diri untuk pulang ke kampung
halamannya di Mojokerto untuk menabur bunga di makam kedua orangtuanya di TPU Losari, Losari,
Gedeg, Mojokerto.
Kematian
Mbah Surip
tutup usia pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB pagi, di
puncak kepopulerannya di kancah musik Indonesia. Dia meninggal dunia akibat gagal jantung dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusdikkes TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur. Menurut bagian rekam
medik RS Pusdikkes, jenazah Mbah Surip
sempat berada selama satu jam di RS Pusdikkes. Jenazah kemudian langsung diambil
oleh kerabat yang membawanya yaitu Mamiek Prakoso. Menurut berita, serangan jantung
tersebut disebabkan kebiasaan meminum kopi
dan merokok Mbah Surip yang berat. Kejadian
tersebut diberitakan karena Mbah Surip tiba-tiba meminum air dingin, sehingga
menyebabkan jantungnya bekerja labil.
Jenazah Mbah
Surip dimakamkan pada hari yang sama, Selasa malam tanggal 4 Agustus 2009, di
pemakaman keluarga W.S. Rendra, di Depok,
Jawa Barat yang lokasinya berdekatan dengan
lokasi Bengkel
Teater Rendra di Kampung Rawa RT
002/05 Cipayung
Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat.
Dalam sebuah percakapan dengan wartawan pada awal Juli, Mbah Surip pernah berkata bahwa penghasilannya mencapai miliaran. Ia pun berniat menikahkan putrinya, membeli helikopter, sampai membuat album bertema religi untuk menyambut bulan suci Ramadan.
Sayang, sebelum semua rencananya terealisasi, Mbah Surip keburu dipanggil Yang Maha Kuasa. Selamat jalan, Mbah Surip, semoga diterima di sisi-Nya. Terima kasih pula atas semua hiburan dan keceriaan yang telah diberikan kepada kita semua.
I LOVE YOU FULL
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mbah_Surip


0 komentar:
Post a Comment